Siap-Siap, Asuransi Menggandeng Teknologi AI untuk Kemudahan dan Penilaian Risiko yang Lebih Baik

Asuransi381 Dilihat

OJK dan OECD Mendorong Pemanfaatan Teknologi di Industri Asuransi

haveatutor.com  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah meluncurkan kajian tentang pemanfaatan teknologi di sektor asuransi. Langkah ini diambil untuk meningkatkan penilaian risiko dan pengurangan risiko pemegang polis dengan menggandeng teknologi seperti analisis big data dan kecerdasan buatan (AI).

Pemanfaatan Teknologi untuk Mencegah Mismatch Produk Asuransi

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menyatakan bahwa teknologi dapat memperluas jangkauan dan mencegah mis-selling produk asuransi. Penggunaan big data dan AI diharapkan dapat memastikan kesesuaian produk yang ditawarkan dengan profil, preferensi, dan kebutuhan pemegang polis.

“Teknologi juga untuk meningkatkan kualitas layanan purna jual, khususnya untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam proses penyelesaian klaim, pembayaran manfaat asuransi, dan memungkinkan penanganan keluhan secara lebih cepat,” ungkap Ogi dalam peluncuran di Bali, Kamis (14/12/2023).

Potensi Ekonomi Digital dan Pemanfaatan Internet di Indonesia

Ogi menambahkan bahwa nilai perkiraan ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 200 hingga 300 miliar dolar AS pada tahun 2030. Sementara itu, Indonesia memiliki 215 juta pengguna internet atau 77 persen dari populasi, yang dianggap sebagai peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi.

Kontribusi Teknologi untuk Pengurangan Risiko Pemegang Polis

Chair OECD Insurance and Private Pensions Committee (IPPC), Yoshihiro Kawai, menyampaikan bahwa teknologi dapat berkontribusi dalam mengurangi risiko pemegang polis. Dengan membantu menilai profil risiko calon nasabah, teknologi memungkinkan penetapan harga yang lebih akurat.

“Namun, penerapan teknologi baru ini juga dapat menciptakan risiko bagi perusahaan asuransi dan pemegang polis mereka yang perlu dikelola dengan hati-hati oleh penyedia layanan serta melalui pengembangan kerangka kerja regulasi dan pengawasan yang sesuai,” ungkap Kawai.

Pemanfaatan Teknologi dalam Pengembangan Asuransi

Pemanfaatan teknologi ini menjadi salah satu poin dari empat peluang pengembangan asuransi yang disampaikan Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Iwan Pasila, dalam Indonesia Financial Sector Outlook 2024. Dengan langkah ini, diharapkan industri asuransi dapat memberikan layanan yang lebih baik dan mengurangi risiko bagi pemegang polis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *